Lukman, S.Ag, M.Pd. Dosen Metodologi Penelitian dan Teknologi Pendidikan. Universitas Islam Indonesia
Lukman, S.Ag, M.Pd. Dosen Metodologi Penelitian dan Teknologi Pendidikan. Universitas Islam Indonesia

Mawar merah pada judul di atas bukan bermakna sesungguhnya sebagai bunga. Mawar merah dimaksud adalah lambang dari cinta sejati. Mengapa Ramadan adalah bagaikan mawar merah simbol cinta kasih sejati dari Allah SWT Yang Maha Rahmah atau Yang Maha Kasih?

Kebanyakan para pecinta yang merasakan kasih dari Sang Maha Kasih akan menyembunyikan cinta mereka, jika ditanya apakah mawar merah bisa mewakili simbol cinta kasih? Mereka sangat mungkin akan menjawab: “Cinta tak butuh penjelasan yang dipahami logika, kalau ingin merasakannya silahkan berproses menjadi pecinta!” Namun, tidak setiap yang dapat menjawab atau menulis kalimat tersebut adalah pecinta.

Ramadan bagaikan Mawar Merah dari Yang Maha Kasih, Allah SWT adalah tanda peringatan bahwa Allah SWT mencintai hamba-hamba-Nya. Simbol dan sebagai tanda pengingat karena sesungguhnya Allah SWT tidak pernah putus sedikitpun mencintai hamba-Nya. Gambaran ini sebagaimana termaktub dalam hadis:

Dari Sahabat Umar ibn Khattab ra. bahwasannya Rasulullah SAW kedatangan rombongan tawanan perang. Di tengah-tengah rombongan itu ada seorang ibu yang sedang mencari-cari bayinya. Tatkala dia berhasil menemukan bayinya di antara tawanan itu, maka dia pun memeluknya erat-erat ke tubuhnya dan menyusuinya. 

Rasulullah SAW bertanya kepada kami, “Apakah menurut kalian ibu ini akan tega melemparkan anaknya ke dalam kobaran api?” 

Kami menjawab, “Tidak mungkin, demi Allah. Sementara dia sanggup untuk mencegah bayinya terlempar ke dalamnya.” 

Maka Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini kepada anaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Setiap saat dan di manapun seorang hamba pasti sedang mendapat anugerah kasih dan sayang dari Allah SWT. Melebihi kasih seorang ibu kepada anaknya. Kalaupun terjadi pada satu waktu seorang ibu memukul anaknya itu adalah pukulan kasih sayangnya agar anaknya tidak terjerembab pada kecelakaan dan kesalahan yang membuatnya celaka atau akan celaka.

Ramadan Bagaikan Mawar Merah Tanda Rahmat dari Allah SWT

Ramadhan adalah bagaikan mawar merah simbol cinta kasih Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya akan sulit dipahami bagi orang yang tidak pernah merasakan cinta. Namun sesungguhnya setiap orang pernah merasakan cinta, dan itu adalah bentuk kasih dan sayang Allah SWT agar hamba-hamba-Nya belajar dari pengalamannya mencintai tersebut untuk kemudian mencintai Allah SWT. 

Untuk merasakan betapa Allah SWT mencintai dan menyayangi diri ini dengan sangat halus diajarkan oleh Rasulullah SAW, di antaranya: “…Ramadan adalah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya maghfirah (ampunan) dan akhirnya pembebasan dari api neraka”. 

Rahmat itulah kasih Allah SWT. Hal ini hendaknya dipahami tidak hanya Ramadan Kasih Allah SWT kepada hambanya, namun ini adalah simbol peringatan untuk menyangatkan, bagaikan mawar merah itu adalah simbol menyangatkan rasa cinta.

Ikhtiar merasakan cinta dapat dipelajari dari pengalaman yang dirasakan setiap orang dalam mencinta. Kisah cinta tentu diawali tahu dan kemudian: (1) mengenal, (2) melakukan pendekatan, (3) merasakan cinta. 

Pertama, mengenal Allah SWT lebih mendalam dapat dilakukan dengan memahami Firman-Nya yaitu Al-Qur’an. Memahami Al-Qur’an dengan baik dapat dijalani secara bertahap dengan secara rutin mengaji tafsir-tafsir yang ditulis ulama-ulama yang sudah mengenal-Nya. Lebih tematik hal ini dapat dilakukan dengan memahami 20 sifat wajib bagi Allah, 20 sifat mustahil bagi Allah, dan 1 sifat jaiz bagi Allah dan asmaul husna, yang secara umu disebut ilmu tauhid.

Kedua, pendekatan adalah dengan mengamalkan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Agar lebih mendalam tanyakan dan diskusikan kepada orang-orang yang telah lebih dahulu mencintai Allah SWT atau dalam bahasa lain berguru. Bertebaran buku yang dapat digunakan untuk memahami apa perintah dan larangan Allah SWT, seperti kitab-kitab fikih. 

Ketiga, merasakan benih-benih cinta dan bagaimana mengelolanya dapat dirasakan dengan memperdalam ilmu tasawuf dan berguru dan mendiskusikannya dengan para senior yang sudah lebih dahulu mendalami ilmu dan melakukannya. Kekuatan ilmu tasawwuf adalah pemahaman akal yang dipadu dengan pengenalan batin gejolak jiwa dan hati. 

Momentum Ramadhan Tahun 2020

Tampaknya memahami, mengamalkan, dan merasakan benih-benih cinta sebagaimana penjelasan di atas saat ini mendapatkan momentum yang tepat. Karena cinta lebih terasa terhikmati dalam kesendirian. 

Syarat utamanya adalah kesungguhan, sebagaimana Allah SWT berfirman: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik (QS. 29:69).

Mawar Merah tanda Cinta dari Allah yang bernama Ramadan akan menjadi berarti dengan menerimanya dengan khusyu. Dirasakan keindahan bentuk dan warnanya yang terikat kepada tangkai yang kecil amun ulet. 

Keindahannya memesona, harumnya merasuki jiwa, namun jangan terlena karena sesungguhnya yang lebih berarti dari itu semua adalah siapa yang mengasihkannya kepada kita, yaitu Allah SWT Sang Maha Kasih kepada hamba-hamba-Nya. 
Wallohu A’lam. 

Penulis adalah Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam, Jurusan Studi Islam, Fakultas Ilmu Agama Islam, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.